Category: Kota Kreatif

KSM Basama, apa kabar ?

Pemerintah Kota Malang berancang-ancang membangun teknologi yang mampu memanfaatkan sampah sebagai sumber tenaga listrik. Untuk segera merealisasikannya, Pemerintah Kota Malang melakukan dialog dengan Perwakilan dari Bappenas untuk membahas opsi alternatif dalam pembiayaan ataupun bantuan dari pusat dalam proses pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) tersebut.

Sekretaris Daerah Kota Malang, Bapak Drs.Wasto SH.MH. menjelaskan jika permasalahan sampah di Kota Malang sudah di depan mata. “Lima sampai tujuh tahun kedepan, Malang ini akan menjadi persoalan sampah, hampir pasti”, ujar Sekretaris Daerah Kota Malang dalam dialog dengan Bappenas di Ruang Walikota Malang. Sehingga perlu segera dilakukan langkah-langkah antispasi untuk mengurai masalah tersebut dengan semua pilihan opsi yang ada. Terlebih jika opsi tersebut mampu memberikan manfaat kembali untuk Kota Malang.

Sekretaris Daerah Kota Malang tak menampik jika telah banyak tawaran berdatangan dalam pembangunan teknologi pengelolaan tersebut namun selalu terkendala pada masalah biaya. Sehingga menurutnya, perlu adanya bantuan/campurtangan dari pusat untuk merealisasikan rencana ini.

Pengelolaan sampah memang seharusnya dapat dimulai dari pengelolaan tingkat basis, yakni lewat pola keluarga. Dikelola lewat kelembagaan masyarakat (KUB), lewat fasilitasi pemerintah, dapat mengurangi beban sampah di TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Lewat pendirian Instalasi Pengelolaan Sampah Organik (IPSO) di setiap sumber dominan (pada tahap awal) lalu pemerintah membentuk Industri Daur Ulang Sampah semacam Instalasi Pengelolaan Sampah Kota (IPSK) untuk menunjang dan membantu pemasaran dari IPSO yang telah didirikan oleh kelompok usaha bersama (KUB) oleh masyarakat, sebagai pola komunal atau “konsep bersih mandiri” dalam mensiasati problem persampahan di Indonesia.

Berpijak pada pola yang awal dapat dilakukan perbaikan dan penyempuranaan, sehingga hanya sampah yang tidak bisa di olah saja yang akan dibuang di TPA. Misalnya sampah B3 (beracun, berbau dan berbahaya).

Secara holistic dalam mensukseskan program progreen, haruslah dimulai dengan program bersih lingkungan dengan mengelola sampah dengan bijaksana. Sesungguhnya inilah inti dari program progreen. Bukan hanya menanam pohon saja, seperti selama ini yangdilakukan pemerintah (akan terjadi pemubadziran anggaran saja) tapi dengan mengelola kebersihan untuk dijadikan sarana dan prasarana pupuk dan pemupukan agar tanaman menjadi hijau, tentu didalamnya akan tercipta sebuah proses kreatifitas dan aktivitas di tingkat masyarakat komunal (tercipta kemandirian). Diharapkan dengan pola komunal ini, masyarakat tentu akan peduli menanam pohon dan tidak terlalu susah memeliharanya, karena pupuknya yang berbasis sampah kota dapat dengan mudah diperoleh (sustainable).

TPS3R Bandungrejosari.

Sejak digulirkan dapat capaian pembangunan oleh Lurah Bandungrejosari Jumat 6/8/2016, bahwa pengelolaan sampah di kelurahan akan dikembangkan dalam pola 3R (Reduce, Re use dan Recycle) lewat pembangunan fasilitas sampah terpadu di lokasi Kemantren. Selain mengurangi jumlah sampah dari 3 RW yakni RW03 RW 07 dan RW13, pola ini akan dijadikan percontohan agar ke depan seluruh sampah di kelurahan akan “dimakan” oleh fasilitas TPS 3R.

Peresmian pembangunan fasilitas TPS3R tahun 2017 sampai saat ini masih mengalami kendala. Sebagaimana yang dilaksanakan pada rakor Lurah dan instansi terkait (Camat, Dinas DLH dan kader lingkungan) pada Jumat 15 September 2017, masih menyisakan persoalan tentang program kerja, laporan kegiatan dan keuangan dan terpenting adalah masalah kelembagaan.

Keterangan gambar :

TPS3R menempati posisi di belakang lapangan olahraga Kemantren

Ario/Linda

Bulutangkis …. sarana pemersatu tokoh


Membangun kembali nilai nilai kebangsaan bisa dilaksakan lewat banyak hal. Mulai dari bercerita tentang kepahlawanan (biasanya saat melaksanakan tasyakurandi malam 17), berbagai lomba berthenakan merah putih, pendirian gapura, karnaval atau pun berbagai kegiatan olahraga. kita tidak bisa memungkiri bahwa olahraga bulutangkis adalah olahraga kelas dunia, dan kita sudah banyak tokoh olahraga ini yang berjaya diberbagai even kelas dunia.
Dalam rangka pemberdayaan masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan HUT RI Ke 74, Panitia HUT RI Kelurahan Bandungrejosari pun mengadakan acara yang jadi pemersatu bangsa …… Bulutangkis.
Mengapa ?
Menginjak usia Kota Malang yang ke 104 tahun, banyak tokoh masyarakat dan pejabat Kota Malang sudah tidak asing dengan olahraga yang satu ini. “Bulutangkis adalah satu olahraga yang bersifat Nasional. Dan jangan lupa Bandungrejosari sudah terkenal seantero Nusantara sebagai sentranya raket” demikian pernah disampaikan oleh Djumain, ketua Panitia HUT RI Ke 74 Kel Bandungrejosari.Sehingga peragaan lomba tidak hanya sekedar menjadi juara, namun diharapkan dapat mengumpulkan tokoh masyarakat dan pejabat Kota Malang dalam bersilaturahim.
Kalau kita undang Walikota dan Wawali di event eksibisi HUT RI ke 74 di Kelurahan Bandungrejosari, menurut teman warga Bandungrejoari bagaimana ….?

Fakta HUT RI ke 74 tahun ini

Beberapa fakta yang berkaitan dengan HUT RI ke 74 tahun 2019 yang bisa temen warga kelurahan harus tahu adalah sebagai berikut :
1. Logo HUT RI, .. Logo tahun ini berbalut merah putih khas dengan angka 74 yang dominan
2. Slogan Menunju Indonesia Unggul ,… slogan ini terinspirasi oleh pidatoi Presiden Joko Widodo yang mengungkapkan bahwa pembangunan Indonesia ke depan diarahkan pada pembangunan sumber daya manusia. Wajar apabila slogan ini harus selalu digaungkan
3. 17 Agustus 2019 jatuh pada hari Sabtu,… so jangan berharap ada week end ya bagi pekerja kantoran
4. Kelurahan Bandungrejosari mempunyai 5 wilayah dengan jumlah warga dan sejarah berdirinya lingkungan tersebut. Ada Janti, Kepuh, Keben, Kemantren dan Klayatan
5. Kampung kerlip kerlip ,… tahun ini seiring dengan perayaan HUT RI ke 74 thema kampung warga kali ini menjadi khas, yaitu kampungku berkelip kelip.
menurut temen warga Bandungrejosari bagaimana ????

Membangun asset Kelurahan Bandungrejosari

Kepedulian terhadap pembangunan bukan saja pada kepedulian terhadap pembangunan fisik semata. Namun juga pada sektor manusia dan lingkungan hidupnya dengan harapan ada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitarnya. Dengan demikian tingkat partisipasi masyarakat kelurahan akan terbentuk, nyata, terukur dan berkelanjutan. Hakekat pelaksanaan pembangunan ini disadari sepenuhnya oleh Lurah Bandungrejosari Kec Sukun Kota Malang.
Disela sela pembangunan fisik berjalan di tingkat wilayah, beliau selalu menanamkan pentingnya menyantuni anak yatim, dhuafa dan fakir miskin. Hal ini dilakukan dengan satu pemahaman, bahwa selain “menghidupkan” nilai-nilai kedermawanan, berbagi kesejahteraan, juga pada proses percepatan “naik kelas” bagi warga pra sejahtera di Kelurahan Bandungrejosari.
Dalam jenjang karir di Kelurahan Bandungrejosari, sejak 2011 sampai sekarang, disetiap tahun anggaran selalu diinisiatipkan adanya santunan bagi keluarga pra sejahtera di atas. Mulai santuan dalam bentuk uang, stimulan, dan peduli pada setiap program penanggulanngan kemiskinan yang berasal dari berbagai kedinasan. Bahkan senantiasa mendorong kegiatan kemasyarakatan untuk menyisihkan bantuan sosial, khususnya dalam rangka membuka akses pada sumber daya kunci agar adanya percepatan dalam menuju kesejahteraan.
Hal inilah yang disadari beliau saat menerima Tim Penyelenggara Syariah Kemenag Kota Malang (Jumat 2/08/2019) dalam rangka Kelurahan Bandungrejosari mendapatkan program Kampung Zakat. Zainul Amali S.Sos Msi menyampaikan karakter warga miskin kelurahan beserta lingkungannya, yang walaupun menyebar di 13 RW namun tidak terlokasi di satu tempat. Sehingga saat Ibu Nurul dari Kemenag Kota Malang meminta untuk survey lokasi agar dapat memetakan lokasi dan persyarataan administrasi lainnya. Dalam kesempatan itu pula Zainul Amali S.Sos Msi menyampaikan, bahwa tidak ada satupun RT yang spesifik adalah warga miskin. Yang ada adalah kawasan yang bisa jadi terdiri dari 1 sampai 3 RT. Ibu Nurul dan tim pun mendapatkan penjelasan tambahan dari Ibu Kartina (mewakili Puskesos dan PSM Kelurahan) dan Ario Rachmono (TKSK Sukun) tentang perlunya satu kesepakatan tentang warga miskin kelurahan dan lokasi yang bisa dijadikan alternatif.
Dalam rangka mendapatkan data yang sesuai, Tim Penyelenggara Syariah Kemenag Kota Malang ini pun diantar ke lokasi RT10 RW 01 dan RT11 RW 03 untuk mendapatkan data konkrit dan survey yang akan dipakai sebagai kajian awal terbentuknya Kampung Zakat. Semoga dengan keberadaan Kampung Zakat ini dapat menambah aset Bandungrejosari, yang akan menjadi daya ungkit bagi masyaraakt miskin Kelurahan untuk ikut serta aktif dalam Program Pembangunan Kelurahan Bandungrejosari

Malang Smart City …. mewujudkan Kota Kreatif

Menjelma menjadi sesuatu yang luarbiasa bukanlah tanpa sebab. Demikian pula dengan ikon baru sebagai kota kreatif indonesia, tentunya bukanlah tanpa latar belakang.

Siapa yang tidak mengenal ikon AREMANIA dan SALAM SATU JIWA di Indonesia. Bahkan plesetan sekilas tentang Blok M di Jakarta Selatan adalah blok Malangmania. Namun itu sah sah saja. Bahkan sejarah Ken Arok pun tidak akan meninggalkan kesan dan gambaran tentang kota Malang.

Mengawali tahun pemerintahan Walikota Sutiaji dan Edi Sofyan Jarwoko, Kota Malang mendapatkan gelar sebagai Kota Kreatif. Walikota Malang Sutiaji menyampaikan, prestasi tersebut merupakan kolaborasi pentahelix yang melibatkan komunitas masyarakat, pemerintah, akademisi, pengusaha dan media. Para stakeholder telah bersama-sama mewujudkan Kota Malang menjadi Kota Kreatif berbasis Aplikasi dan Pengembangan Game melalui program KaTa (Kabupaten/ Kota) Kreatif.  Beberapa developer game dan aplikasi sudah dibangun dari kota Malang ini, bahkan keberadaan 50 lebih perguruan tinggi turut menyumbang kota ini menjadi Smart city .

“Smart City, bukan hanya smart city dalam satu kelompok saja, tapi smart city sudah menjadi kebiasaan dan harus bisa memberikan arti positif bagi masyarakat Kota Malang. Malang 4.0 ini menjadi sebuah keniscayaan,” katanya.

Melalui konsep Pentahelix yang disampaikan saat presentasi pada Rakornas Indonesia Creative Cities Network (ICCN) 2019 di Hotel Four Point by Sheraton, Kota Surabaya, Jumat (28/6) kemarin, beliau berharap ada pola sinergis dalam mewujudkan harmonisari yang dimulai dari perencanaan, aktivitas pembangunan serta monev. Dan berujung pada goal tercapainya layanan masyarakat yang optimal . Konsep pentahelix yang melibatkan komponen ABCGM (Academician, Business, Community, Government, dan Media).

Siapapun walikota ke depan , siapapun pemimpin kedepan, saya yakin, G-nya walaupun siapapun tapi ABC M nya jalan. Insya Allah ekonomi kreatif akan bisa  berjalan dengan baik di Kota Malnag,” kata Wali Kota Malang di hadapan peserta Rakornas ICCCN di Surabaya.

Dengan adanya sistem smart government tersebut, pihaknya akan memaksimalkan layanan publik yang berbasis digital. Dengan begitu, masyarakat bisa telayani dengan baik. “Sehingga, mampu memunculkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Secara otomatis, dengan begitu program-program pemerintah bisa dijalankan dengan baik,” papar dia.

Yuk simak apa saja yang membuat Kota Malang bikin Kangen …..

Sumber Berita : Merdeka.com, Kumparan.com, Malangpost dan humas Pemkot Malang.